Starting Up an Online Bussines

Halo, kamu lagi apa?

Pandemi ini mungkin banyak orang yang beralih ke bisnis online untuk mengebulkan lagi asap dapur, menyambung hidup setelah di-PHK, atau mengumpulkan lagi pundi-pundi setelah bisnis offline sepi.

Nah, sama nih, saya lagi mau mulai bisnis online.

Saya cerita dulu ya. Saya itu orangnya sangat mudah berubah-ubah pikiran. Sehari bilang A, besok udah B aja. Gitu terus. Saya sempat bertanya kepada kakak saya, “Kamu percaya gak kalau suatu saat aku bisa menghasilkan dolar dari Adsense?” Ini kaitannya dengan bidang yang sedang saya pelajari yaitu SEO dan digital marketing.

Apa jawab kakak saya?

“Iya, asalkan kamu nggak berubah-ubah pikiran.”

Udah nanya gitu, apakah saya langsung nggak berubah-ubah pikiran…? Nggak juga. Saya tetap berubah pikiran. Bahkan setiap detik saya berubah pikiran. Hehe.

Setelah ingin menekuni SEO, saya mau melanjutkan nulis buku. Belum tersentuh draft novel, sudah mau bikin toko offline. Toko offline modalnya gede, saya beralih ingin memulai bisnis online. Sangat tidak patut dicontoh.

Lalu saya berusaha fokus.

Nah, saya akhirnya ketemu kata kunci untuk memulai bisnis online ini supaya tidak berubah-ubah pikiran lagi. Apa itu? Sudah saya sebut tadi. FOKUS.

Saya mulai fokus dengan apa yang akan saya mulai.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengoptimasi satu kata kunci dan produk. Saya akan menerapkan SEO lokal. Saya akan menjual produknya juga. Nah, akhirnya oprek lagi keyword plannernya. Ketemu apa yang bisa saya optimasi. Saya riset, apakah saya ada peluang masuk di nomor 1. Apa bisa saya implementasikan digital marketingnya? Potensial.

Bismillah. Per 1 november 2020 saya akan starting an online bussiness. Dengan cara saya, dengan modal fokus, sabar, dan memberikan adding value atau nilai lebih kepada customer. Sekaligus… menerapkan pelajaran SEO saya setahun belakangan ini (lama juga ya saya belajarnya…?)

Satu hal, saya ingin menikmati prosesnya dan pertumbuhannya.

Sudah itu dulu ceritanya, disambung lagi kalau sudah ada perkembangan.

Lebih Mindful

Saya sedang berusaha untuk menjadi orang yang mindful, alias berkesadaran. Hal pertama yang saya ingin ubah melalui mindfulness ini adalah tentang keuangan.

Saya merasa menjadi orang yang jatuh ke lubang yang sama setiap bulannya. Saya menjadi hamster yang berlari di roda putarnya. Akhirnya saya sadar bahwa saya harus berhenti sekarang.

Saya mencoba memperbaiki keadaan keuangan saya hingga akhir tahun ini. Bersyukur masih ada sumber pendapatan yang bisa saya olah. Bersyukur, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya mungkin sedikit menyesal, tapi tidak berlarut-larut.

Photo by Martin Dawson on Unsplash

Saya hanya berusaha untuk tidak masuk ke jebakan yang sama. Berusaha berhenti menaiki roda putar yang membuat saya tidak ke mana-mana. Saya akan menjadi orang yang sama sekali baru, sehingga saya bisa merasakan perbedaannya.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya itu tidak sedang menghadapi masalah pelik. Hanya beberapa catatan saya mengenai pengelolaan keuangan :

1. Berhenti impulsive buying. Saya efektif dengan cara menguninstall aplikasi marketplace dari handphone, yang bisa mengurangi kadar saya berwindow shopping, serta impulsive checkout. Wkwk.

2. Berhenti berutang. Apapun.

3. Tidak memulai bisnis tanpa ada perencanaan. Modal mudah saja didapat, tapi apakah kita akan berkomitmen untuk BEP? Bisakah memisahkan uang usaha dan uang pribadi? Think again.

4. Budgeting itu superduperpenting! Taati budget, aman.

5. Mencatat detail pengeluaran hanya efektif dilakukan 3-6 bulan, untuk MENCARI POLA.

6. Cara memisahkan uang terbaik bukan memisahkan fisiknya semata, tapi lebih penting adalah CATATANNYA. Percayalah, walau udah kamu pisahkan uangmu di berbagai rekening dengan pos berbeda, kalau gak ada catatannya kamu akan sering khilaf ngambil tanpa mengembalikan. Karena merasa, kan uang-uang saya juga! Lah emang iya, tapi apa gunanya kalau butuh (walau gak mendesak, sekadar beli teh pucuk harum doang) kamu ambil juga dari dana dari dana darurat?

7. Nabung itu terakhir, kak. Urutan yang benar dalam keuangan adalah : menghasilkan, sedekah, belanja, dan nabung/investasi. Iya, kamu gak akan tahan liat tabunganmu duduk manis selama kebutuhan atau nafsu belanjamu belum terpenuhi.

8. Cash is the King! Saya baru dengerin kata-kata Luna Maya di channelnya Boy William. Dia bilang, benda-benda yang kita beli cuman buat pembuktian ke orang itu gak ada gunanya. Mendingan jadi cash. Saya sih levelnya baru pengen punya cash supaya gak susah pas butuh, baik cash di rekening maupun uang tunai. Biar hidup saya gak sekedar minta transferan kakak sepuluh ribu biar atmnya bisa ditarik (yang mau ngakak boleh). Pengen gak merepotkan orang lain gegara gak punya uang cash. Tidak banyak sih, tapi ada saat dibutuhkan. Ini beda dengan dana darurat ya… Saya sih lebih senang menyebutnya uang kas dengan saldo minimal terjaga. Jadi usahakan kita selalu memegang uang segitu (misal 2 juta, satu juta di rekening dan 1 juta tunai). Ini uang yang bisa kita pakai saat urgent. Kalau gak urgent ya pakai dana anggaran sesuai budgeting kita aja.

9. Jangan taruh semua uangmu dalam satu kantong. Udah umum sih ya, gak perlu saya jelasin. Biar kalau jatuh, gak pecah semua.

10. Pay yourself first. Jangan lupa skinkeran, investasi leher ke atas (buku, course, dll) dan hargai dirimu sendiri dengan pantas. Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri melalui tulisan ini. Sebab saya pun kadang lupa untuk menjaga kesehatan, kecantikan, dan otak saya karena terjebak rutinitas. Maka, cara menghargai “orang” yang sudah bekerja keras untuk menghasilkan uang adalah dengan membayarnya terlebih dahulu sebelum lainnya. Gaji atau penuhi hajat dirimu sendiri sebelum memberi orang lain. Dengan demikian, kamu akan bisa menghasilkan lebih banyak dan bermanfaat lebih banyak.

Baiklah, maaf kalau pembahasannya kurang detail. Kapan-kapan disambung lagi kalau ingat ngedit. Semoga lebih mindful lagi, ya!

Hidup Dinamis

Di postingan terakhir saya dua bulan gabut sampai bisa menyelesaikan sebuah naskah novel seratusan halaman. Saya peram, dan rencananya akan diedit maksimal sebulan kemudian.

Akan tetapi karena suatu hal, saya masih memeramnya hingga sekarang, karena dua bulan terakhir saya benar-benar sibuk. Saya harus beradaptasi dengan jobdesc baru saya, dan itu cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran.

Photo by Quan Nguyen on Unsplash

Namun, seiring waktu sudah cukup terbiasa sehingga saya punya waktu lagi untuk berpikir tentang kehidupan saya. Apakah akan tetap sama dari waktu ke waktu, atau terus berubah?

Tidak perlu lama-lama menjawab, karena jawabannya pasti : akan selalu berubah. DINAMIS.

Continue reading “Hidup Dinamis”

Memeram Draft Pertama Novel

Saat sudah mencapai epilog dan mengetik TAMAT dalam naskah novel, saatnya kita “membuang” naskah itu sementara dan merayakan keberhasilan kita menyelesaikan draft pertama!

Saya pun melakukannya.

Hari Selasa lalu, saya menyelesaikan naskah novel ketiga saya, dan saat ini novelnya sedang saya peram. Rencananya, saya mau mendiamkannya di folder komputer selama dua minggu. Kebetulan, saya memiliki proofreader langganan yakni saudara kembar saya sendiri. Dia bilang sih, naskahnya bagus, tapi perlu diperbaiki.

Foto oleh bongkarn thanyakij dari Pexels
Foto oleh bongkarn thanyakij dari Pexels

Novel itu saya tulis selama dua bulan. Tidak perlu selama itu sebenarnya, karena saya banyak malasnya, banyak nonton drakor, leha-leha dan pura-pura amnesia kalau lagi nggarap novel. Sungguh, saya merasa berdosa telah menyia-nyiakan waktu saya yang berharga. Haha.

Seharusnya, bisa selesai cepat dalam 11 hari seperti yang pernah saya tuangkan di artikel ini. Namun, karena saya banyak pikiran (hahaha, maaf, bawaan orang thinking) maka saya butuh waktu dua bulan untuk menamatkan draft pertama. Saya kira, jika kita sudah punya outline yang bagus, maka menulis draft pertama maksimal satu bulan untuk naskah 100-an halaman.

Continue reading “Memeram Draft Pertama Novel”

Menentukan Target Tahunan Penulisan Novel

Jika kamu tersasar di blog ini, kemungkinan besar kamu ingin menjadi novelis. Penulis novel yang membukukan karya.

Well, kamu boleh saja mengatakan kalau mustahil menjadi penulis novel yang menerbitkan banyak karya, sedangkan belum ada satupun naskah yang jadi atau siap diterbitkan.

Selama kamu masih bisa menekan tuts keyboard, selama kamu masih bisa berfikir, tidak ada yang mustahil.

Bagi saya, menulis adalah sebuah perjalanan karir yang mengasyikkan. Ada yang menjadikan menulis sebagai kegiatan sambilan, sehingga saat menghasilkan karya, tak terlalu peduli apakah karya itu laku dijual atau tidak. Penulis semacam ini, disebut penulis amatir. Artinya, menulis tidak untuk dijadikan profesi.

Berbeda dengan penulis profesional yang menulis untuk mendapatkan imbalan, baik berupa uang (honor, royalti, gaji, dll) maupun penghargaan atas karyanya (menang lomba/award). Ia menulis untuk diapresiasi dalam bentuk materi dan penghargaan. Penulis ini disebut dengan penulis profesional.

Sudah tau bedanya, kan?

Continue reading “Menentukan Target Tahunan Penulisan Novel”

3 Pelajaran Menulis Novel dari Tere Liye dan Andrea Hirata

Ketika memutuskan untuk menulis novel lagi, saya mulai me-recall pengetahuan saya tentang menulis dengan cara mendengarkan kembali petuah menulis dari penulis senior yakni Tere Liye dan Andrea Hirata.

Mengapa harus Tere Liye?

Mengapa Andrea Hirata?

Apakah kedua novelis ini memang wajib diikuti petuah menulisnya karena novel-novelnya best seller?

Bisa iya bisa tidak.

Menulis novel Indriani Taslim Foto oleh Dina Nasyrova dari Pexels
Foto oleh Dina Nasyrova dari Pexels

Ada satu petuah yang saya ketahui tentang belajar. Jika kamu ingin belajar suatu topik misal menulis, maka ambillah beberapa sumber. Dari beberapa sumber tersebut, pasti ada poin-poin yang bisa kamu ambil, misalnya masing-masing ahli yang Anda rujuk memiliki masing-masing 5-10 teori. Dari teori tersebut akan ada 2-3 kesamaan yang menonjol. Itulah yang bisa Anda terapkan dalam diri Anda, dengan mengambil beberapa hal dan lakukan.

Continue reading “3 Pelajaran Menulis Novel dari Tere Liye dan Andrea Hirata”

Bersabar dalam Himpitan

Pernahkah kamu merasa bahwa hidup ini sangat berat?

Mungkin kamu merasa bahwa kamulah yang memiliki masalah paling berat.

Hari-harimu suram, tidak ada aktivitas yang bisa kamu lakukan yang bisa menetralisir kecemasanmu.

Yang ada hanyalah airmata, konflik tak berkesudahan.

Jika kamu curhat, kamu hanya dapat nasihat : sabar. Sabar. Sabar.

Jika kamu pernah mengalaminya, sesungguhnya tak ada nasehat yang lebih baik kecuali bersabar. Bersabar dalam himpitan, hingga kamu lepas dari himpitan tersebut.

photo-of-a-man-sitting-under-the-tree-737586

Foto oleh Samuel Silitonga dari Pexels

Saya mengenal beberapa orang yang pernah terpuruk dalam hidupnya. Berbagai masalah mendera, mulai dari masalah keluarga, masalah utang, masalah jodoh, menanti momongan, dan konflik dengan orang lain.

Continue reading “Bersabar dalam Himpitan”

Mulai Menulis Buku Lagi

Saat ini, ada banyak aktivitas yang bisa kita pilih untuk mengisi waktu. Di tengah pandemik Corona seperti ini, saya awalnya merasakan stress yang luar biasa. Setelah hampir dua minggu, saya mulai terbiasa dan mulai mendapat pencerahan untuk mengisi waktu saya supaya lebih produktif.

Foto oleh Judit Peter dari Pexels

Foto oleh Judit Peter dari Pexels

Saya masih bekerja seperti biasa, menulis konten web dan mengelola media sosial. Namun, jam kerja saya tidak sepadat dulu karena memang ada beberapa pekerjaan yang belum bisa dioptimalkan untuk saat ini. Saya fokus untuk mengelola konten website saja, sambil terus belajar copywriting.

Alhamdulillah, tiba-tiba ide untuk menumbuhkan semangat menulis muncul lagi. Saya jadi terfikir untuk menulis naskah buku baru. Sebenarnya, 2020 ini saya punya beberapa target seperti menulis naskah dan menerbitkan buku, membuat ebook, membangun personal branding di instagram, dan beberapa project pribadi lain di luar pekerjaan saya.

Namun, karena kesibukan kerja, saya belum ada waktu untuk memulai. Saat ini, adalah waktu yang cukup tepat bagi saya untuk memulai menjalankan project yang sempat tertunda yakni menulis buku dan menerbitkannya.

Saya tahu, menulis naskah buku perlu nafas panjang. Menerbitkannya adalah satu perkara yang lain. Jadi, saya abaikan dulu soal penerbitannya. Saya akan fokus pada penulisan naskah bukunya. Saya membaca beberapa postingan dari penerbit bahwa sekarang menerbitkan buku sangat fleksibel. Masalahnya, kamu punya naskah tidak? 😀

Okelah, saya mulai saja perjalanan saya menjalani mimpi saya sebagai penulis buku profesional dengan cara : mulai menulis. Menulis lagi. Menulis terus.

Doakan ya, naskah saya segera berwujud sehingga karya saya bisa muncul lagi di ranah perbukuan di Indonesia. Semangat menulis!

 

Indriani Taslim,

Masih teguh dengan cita-cita

Tidak terlalu peduli dengan passion

Tips Menanamkan Kebisaan Membaca Pada Anak Sejak Kecil

Menjadikan anak gemar membaca buku bukanlah perkara yang sulit. Kebiasaan membaca pada anak dapat ditanamkan sejak ia bayi, bahkan sejak ia masih dalam kandungan. Sejak usia kandungan 4 bulan, bayi dapat mendengarkan suara dari luar, sehingga sangat tepat jika Anda mulai membacakan buku untuknya agar kelak dia akrab dengan buku.

melatih-anak-gemar-membaca

Namun, tidak jarang para ibu kesulitan untuk “menyuruh” anak-anak membaca buku. Padahal, dengan buku, ilmu pengetahuan mereka akan berkembang. Banyak informasi yang bisa didapatkan dari buku. Nah, kali ini saya akan mencoba memberikan tips untuk Anda yang ingin membiasakan anak-anak agar gemar membaca dengan beberapa cara mudah berikut ini. Selamat menyimak!

Membacakan Buku Sejak Hari Kelahirannya

Seperti yang sudah saya singgung di atas, sejak dalam kandungan pun, janin sudah bisa mendengarkan suara Anda. Manfaatkan dengan membacakan buku untuk anak dalam kandungan Anda. Saat belanja keperluan untuk bayi baru lahir, jangan lupa untuk membeli beberapa buah buku untuk Anda bacakan saat hari kelahirannya. Semakin cepat Anda mengenalkan buku pada anak Anda, maka akan semakin besar peluang ia menyukai buku.

Continue reading “Tips Menanamkan Kebisaan Membaca Pada Anak Sejak Kecil”

1000 Kata Perhari, Latihan Wajib Para Penulis Tangguh

1000 Kata Perhari, Latihan Wajib Para Penulis Tangguh – Menjadi penulis novel atau penulis buku, yang diperlukan adalah konsistensi. Ide mungkin saja hanya sedikit yang bisa dieksekusi. Namun untuk mengembangkan ide tesebut menjadi sebuah naskah utuh, diperlukan kekuatan, ketahanan dan kesabaran kesyukuran.

Jika diibaratkan lari, menulis cerpen atau artikel blog adalah sprint. Sedangkan menulis buku atau novel merupakan maraton bagi penulis. Apa yang diperlukan oleh pelari maraton? Apakah kecepatan yang diunggulkan? Ternyata bukan.

make-writing-habit

Latihan untuk ketahanan adalah yang paling utama agar stamina tidak putus di tengah jalan. Buat apa jadi yang tercepat kalau setengah jalan sudah berhenti? Oleh karena itu, penulis buku atau novel bisa dibilang sebagai penulis tangguh yang memerlukan latihan setiap hari agar bisa meraih prestasi kala berlomba dengan peserta maraton yang lain.

Continue reading “1000 Kata Perhari, Latihan Wajib Para Penulis Tangguh”