Istiqomah Bersedekah

Saya mau cerita sedikit tentang sedekah.

Sudah lama saya membaca artikel, mendengar ceramah, dan menonton video tentang sedekah dari berbagai sumber. Saya memang memiliki ketertarikan tentang amalan sedekah, melebihi amalan-amalan lain. Ya, kalau ada orang yang concern di Quran, shalat, shalawat, dll, saya cenderung pada amalan sedekah.

Banyak hal yang saya pelajari tentang sedekah. Mulai dari merutinkan sedekah (walau nominal kecil), sampai sedekah ekstrim atau sedekah brutal. Dan saya insya Allah sudah pernah mempraktekkannya. Ada pengalaman-pengalaman sedekah yang membuat saya jadi “ketagihan” dalam bersedekah.

Ada 3 sedekah yang berusaha saya rutinkan saat ini.

Pertama, sedekah subuh/sedekah pagi. Saya berusaha merutinkannya (walau ada bolongnya juga) setiap pagi. Nominalnya minimal 2 ribu sampai semampu saya. Saya menyalurkannya setiap hari, kadang saya kumpulkan beberapa dulu baru saya salurkan.

Kedua, sedekah nasi jumat. Ini per pekan, kadang saya ambil dari sedekah subuh yang dikumpulkan (penyalurannya di hari jumat) atau memang saya berikan khusus di hari jumat itu. Saya menyalurkannya di @jumatberkahponorogo

Ketiga, sedekah bulanan ke BMH. Nominalnya kecil, bahkan saya bisa bilang sangat kecil sekali. Tapi saya berusaha untuk ISTIQOMAH.

Inilah kata kuncinya. Saya ingin istiqomah dalam bersedekah. Saya mengajak orang-orang di sekitar saya untuk istiqomah dalam bersedekah. Memulai suatu pekerjaan atau amalan memang mudah, namun yang sulit adalah istiqomahnya atau konsisten menjalankannya. Tidak percaya? Coba saja.

Sudah, segitu dulu insight dari saya. Kalau kamu, sudahkah istiqomah bersedekah?

Nikmat Sehat

Beberapa hari lalu, tepatnya sebelum liburan awal tahun, saya merasakan badan saya kurang sehat. Masuk angin. Sebenarnya saya sudah jarang mengalaminya, bahkan bisa dibilang alhamdulillah saya jarang sakit. Kalau sakit, berputar di masuk angin, pusing, sakit gigi, flu, atau capek-capek biasa.

Qadarullah 2 hari sebelum sakit saya kehujanan, tak pakai jaket pula. Padalah biasanya saya selalu pakai jaket, everyday every season. Mau panas, mau hujan, cerah, dingin, selalu pakai jaket. Ya, namanya juga sebab, entah kenapa 2 hari itu saya pede banget nggak pakai jaket.

Foto oleh Marcus Aurelius dari Pexels

Rupanya, itulah cara Allah memberikan “nikmat” buat saya berupa sakit. Mana waktunya bertepatan banget dengan libur panjang tanggal 1-3 Januari. Tanggal 30, badan saya mulai meriang, sore udah nggak konsen mau kerja. Tanggal 31-nya badan sudah drop, lalu saya pakai istirahat, siang sampai sore masih bisa lanjut kerja. Kemudian, tanggal 1-3 saya ke rumah ibu, ngajak anak. 2 hari cuman rebahan aja. Kemarin, hari Ahad baru fit. Senin ini sudah kerja lagi seperti biasa. Alhamdulillah…

Continue reading “Nikmat Sehat”

Angka Cukup

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan channel youtube Mas Jaya Setiabudi. Ada pembahasan menarik soal angka cukup. Jadi, kita sebagai muslim bisa menentukan angka cukup kita. Misalnya, untuk simpanan maksimal 1 nisab (85gr emas). Jadi, kalau kita punya harta banyak pun, ada baiknya digerakkan baik dalam usaha, disedekahkan, dll. Bukan hanya ditumpuk menjadi harta simpanan.

Foto oleh Magda Ehlers dari Pexels

Ada juga pendapat dari Fellexandro Ruby, yang mengajarkan bahwa jika kita sudah bisa menentukan pengeluaran bulanan kita (jadi dia pakai metode mencatat selama 1 bulan, lalu kita simpulkan sebenarnya pengeluaran rutin kita berapa…?), maka jika kita punya kenaikan pendapatan baik dari gaji atau usaha, itu bukan berarti kita juga menaikkan pengeluaran rutin kita. Misal, pengeluaran kita 3 juta sebulan saat gaji 3 juta, maka saat gaji 10 juta atau 50 juta, usahakan pengeluaran rutin kita tetap di angka 3 juta. Sisanya dikemanakan? Ya kalau versi dia sih buat berbagi, investasi, usaha, biaya belajar/kursus, dll. Jadi bukan buat hedon ya. Hehe.

Continue reading “Angka Cukup”

Bertanya Kembali

Semakin ke sini, saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Jika di dunia ini saya memiliki banyak keinginan dan ambisi, saya bertanya kembali apakah itu semua yang memang saya inginkan?

Foto oleh Bich Tran dari Pexels

Terkait materi misalnya, saya ingin memiliki banyak benda, uang, harta, dan pencapaian-pencapaian. Terkadang siang malam saya memikirkannya. Termasuk dalam pekerjaan, bisnis, keluarga, pertemanan, relasi, dan sebagianya. Memikirkannya terus, sampai di titik saya bertanya kembali pada diri saya : Apakah benar saya menginginkan semua itu? Adakah hal lain yang ingin saya kerjakan diluar mencapai target dan impian…?

Saat secara sadar saya bertanya, saya merasakan bahwa sebenarnya jawabannya hanya satu : TIDAK HARUS.

Continue reading “Bertanya Kembali”

Seni Menyelesaikan Masalah

Pastinya, dalam hidup kita akan selalu ada masalah. Masalah menandakan kita masih hidup. Kalau udah mati, masalah kita selesai (masalah di dunia).

Saya merasa masalah ini akan selalu ada walaupun kita sudah naik level. Mulai dari masalah receh, naik level ke masalah yang lebih tinggi maksudnya. Masalah kita saat sekolah dengan masalah saat usia kerja udah beda. Masalah single dan sudah menikah jelas berbeda.

Yang membuat kita dewasa adalah saat kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Kalau diujian, kita lulus ujian tersebut. Kalau gagal, ya ngulang lagi. Sederhana, bukan…?

Photo by Ben White on Unsplash

Jadi buat yang merassa kenapa masalah gua kok muter-muter aja di situ, nggak kelar-kelar…? Ya, mungkin aja lo keseringan menghindar dari masalah, tidak berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Alhasil, ya lo gagal. Lo ngulang lagi.

Sorry, sorry. Jadi lo gua.

Continue reading “Seni Menyelesaikan Masalah”

Berbuat Lebih

Saya beberapa kali membaca jawaban dari sebuah pertanyaan di Quora:

Apa yang membuat Anda tidak mau “berbuat lebih” untuk perusahaan tempat Anda bekerja?

Mau jawab di sana belum pede, karena biasanya menjawab pertanyaan yang simpel-simpel aja. Mungkin saya lebih nyaman menjawab di sini.

Saya sebenarnya tipe orang yang jika sudah memilih suatu pekerjaan atau apapun itu, adalah tipe setia dan mau berjuang sampai akhir.

Photo by Bonnie Kittle on Unsplash

Contohnya dulu saat memilih untuk kuliah, maka saya berusaha untuk membiayai kuliah saya sampai selesai, sampai wisuda, meskipun harus mengorbankan masa muda saya untuk bekerja sambil kuliah (boleh dibalik sih, kuliah sambil bekerja, wkwkwk).

Contoh lain, saat saya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihan saya, dan yang memilih saya tentunya. Saya lewati semuanya meski banyak badai tornado yang menghantam bahtera rumah tangga saya (hingga kini). Saya masih di sini, berusaha untuk mempertahankannya hingga akhir hayat.

Ketika saya memutuskan saya siap hamil dan melahirkan, saya berdedikasi tiga tahun untuk hamil, melahirkan, dan menyusui anak saya. Saya lakukan, walau ditengah keterbatasan uang dan kedamaian.

Continue reading “Berbuat Lebih”

Starting Up an Online Bussines

Halo, kamu lagi apa?

Pandemi ini mungkin banyak orang yang beralih ke bisnis online untuk mengebulkan lagi asap dapur, menyambung hidup setelah di-PHK, atau mengumpulkan lagi pundi-pundi setelah bisnis offline sepi.

Nah, sama nih, saya lagi mau mulai bisnis online.

Foto oleh Anna Shvets dari Pexels

Saya cerita dulu ya. Saya itu orangnya sangat mudah berubah-ubah pikiran. Sehari bilang A, besok udah B aja. Gitu terus. Saya sempat bertanya kepada kakak saya, “Kamu percaya gak kalau suatu saat aku bisa menghasilkan dolar dari Adsense?” Ini kaitannya dengan bidang yang sedang saya pelajari yaitu SEO dan digital marketing.

Apa jawab kakak saya?

“Iya, asalkan kamu nggak berubah-ubah pikiran.”

Udah nanya gitu, apakah saya langsung nggak berubah-ubah pikiran…? Nggak juga. Saya tetap berubah pikiran. Bahkan setiap detik saya berubah pikiran. Hehe.

Continue reading “Starting Up an Online Bussines”

Lebih Mindful

Saya sedang berusaha untuk menjadi orang yang mindful, alias berkesadaran. Hal pertama yang saya ingin ubah melalui mindfulness ini adalah tentang keuangan.

Saya merasa menjadi orang yang jatuh ke lubang yang sama setiap bulannya. Saya menjadi hamster yang berlari di roda putarnya. Akhirnya saya sadar bahwa saya harus berhenti sekarang.

Saya mencoba memperbaiki keadaan keuangan saya hingga akhir tahun ini. Bersyukur masih ada sumber pendapatan yang bisa saya olah. Bersyukur, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya mungkin sedikit menyesal, tapi tidak berlarut-larut.

Photo by Martin Dawson on Unsplash

Saya hanya berusaha untuk tidak masuk ke jebakan yang sama. Berusaha berhenti menaiki roda putar yang membuat saya tidak ke mana-mana. Saya akan menjadi orang yang sama sekali baru, sehingga saya bisa merasakan perbedaannya.

Continue reading “Lebih Mindful”

Hidup Dinamis

Di postingan terakhir saya dua bulan gabut sampai bisa menyelesaikan sebuah naskah novel seratusan halaman. Saya peram, dan rencananya akan diedit maksimal sebulan kemudian.

Akan tetapi karena suatu hal, saya masih memeramnya hingga sekarang, karena dua bulan terakhir saya benar-benar sibuk. Saya harus beradaptasi dengan jobdesc baru saya, dan itu cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran.

Photo by Quan Nguyen on Unsplash

Namun, seiring waktu sudah cukup terbiasa sehingga saya punya waktu lagi untuk berpikir tentang kehidupan saya. Apakah akan tetap sama dari waktu ke waktu, atau terus berubah?

Tidak perlu lama-lama menjawab, karena jawabannya pasti : akan selalu berubah. DINAMIS.

Continue reading “Hidup Dinamis”

Memeram Draft Pertama Novel

Saat sudah mencapai epilog dan mengetik TAMAT dalam naskah novel, saatnya kita “membuang” naskah itu sementara dan merayakan keberhasilan kita menyelesaikan draft pertama!

Saya pun melakukannya.

Hari Selasa lalu, saya menyelesaikan naskah novel ketiga saya, dan saat ini novelnya sedang saya peram. Rencananya, saya mau mendiamkannya di folder komputer selama dua minggu. Kebetulan, saya memiliki proofreader langganan yakni saudara kembar saya sendiri. Dia bilang sih, naskahnya bagus, tapi perlu diperbaiki.

Foto oleh bongkarn thanyakij dari Pexels
Foto oleh bongkarn thanyakij dari Pexels

Novel itu saya tulis selama dua bulan. Tidak perlu selama itu sebenarnya, karena saya banyak malasnya, banyak nonton drakor, leha-leha dan pura-pura amnesia kalau lagi nggarap novel. Sungguh, saya merasa berdosa telah menyia-nyiakan waktu saya yang berharga. Haha.

Seharusnya, bisa selesai cepat dalam 11 hari seperti yang pernah saya tuangkan di artikel ini. Namun, karena saya banyak pikiran (hahaha, maaf, bawaan orang thinking) maka saya butuh waktu dua bulan untuk menamatkan draft pertama. Saya kira, jika kita sudah punya outline yang bagus, maka menulis draft pertama maksimal satu bulan untuk naskah 100-an halaman.

Continue reading “Memeram Draft Pertama Novel”