Inilah yang Ingin Saya Capai 10 Tahun Kedepan

Ada seseorang yang menantang saya untuk menuliskan impian besar saya dalam hidup. Sampai malam ini saya masih “takut” untuk sekedar mengetikkannya, apalagi mempublikasikannya. Namun, saya memilih untuk ikut jadi edan dan menulisnya di sini.

Sebenarnya pertanyaannya adalah apa yang ingin saya capai dalam 5 tahun kedepan. Namun, saya akan menuliskan apa yang ingin saya capai 10 tahun ke depan. Mengapa? Karena saya sudah punya angan-angan, di usia saya yang ke 40 tahun nanti, saya ingin dikenal sebagai apa. Jadi, lebih tepat saya gambarkan pencapaian saya 10 tahun ke depan, yang artinya mimpi gila saya ini tidak akan menjadi “sampah” tulisan belaka. Saya benar-benar berharap apa yang saya tuangkan di postingan ini menjadi DOA agar saya selalu ingat apa tujuan saya.

Image by Wokandapix from Pixabay

Saya mengobrol dengan bos saya di kantor, dan mencoba untuk menggali apa yang saya inginkan. Pikiran saya masih melompat-lompat, kadang-kadang saya ingin “yah begini aja”, alias puas dengan pekerjaan saya sekarang. Namun, di lain waktu, saya juga masih memimpikan beberapa bisnis yang bisa saya kerjakan sendiri. Membangun perusahaan sendiri, menjalankan bisnis, dll. Di waktu yang berbeda, ketika saya merasa lelah dengan semua pekerjaan maupun rencana bisnis, saya pun berniat untuk tidak melakukan apa-apa saja, menikmati hidup dan bersantai.

Namun, saya kembali terusik ketika mulai membicarakan impian gila lagi. Saya pertimbangkan kembali, apakah saya benar-benar menyukai pekerjaan saya di kantor? Apakah saya senang melakukan bisnis? Ataukah saya bahagia jika tidak melakukan apa-apa dan santuy saja dalam hidup?

Continue reading “Inilah yang Ingin Saya Capai 10 Tahun Kedepan”

Berbisnis Tulisan

Saya menggeluti dunia tulis menulis sudah cukup lama. Dari keahlian menulis, saya juga sudah punya beberapa pengalaman bekerja melalui tulisan. Ada pekerjaan yang sifatnya sukarela (menulis naskah buku dan menerbitkannya), ada yang freelance (menulis artikel blog pesanan orang), dan bekerja fulltime (web content writer). Pernah juga menulis artikel dan puisi di media cetak seperti koran dan majalah dan menghasilkan uang juga.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa menulis adalah jalan yang harus saya lalui di sisa hidup saya. Karena, saat melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan menulis, rasanya hati saya senang, hari-hari saya begitu ringan dan bermakna. Berbeda saat saya melakukan pekerjaan lain (sekalipun itu berdagang atau full time kantoran), ada “beban” yang saya rasakan. Justru dengan pekerjaan menulis, ada “beban” yang saya salurkan melalui tulisan, dan itu menghasilkan! Hehe.

Oleh karena itu, 2021 ini saya putuskan untuk mengambil langkah berani untuk menentukan target-target yang ingin saya capai selama 10 tahun ke depan. Saya ingin mewujudkan impian saya, melakukan sesuatu yang mendekati tujuan saya. Sebenarnya langkahnya sangat mudah, dan hanya butuh waktu beberapa jam saja (secara teknis). Namun, untuk melakukannya secara berkesinambungan, saya harus meluangkan waktu dan fokus untuk mencapai tujuan saya.

Hari ini saya melaunching website dot kom kedua saya. Yang pertama kemarin untuk percobaan sih, jadi nggak saya hitung. Untuk web ini, saya menggunakan identitas nama pena saya, karena saya akan menggunakannya untuk bisnis di bidang tulis menulis. Branding saya di dunia maya sudah lekat dengan yang namanya Indriani Taslim. Ketimbang nama asli saya, atau nama perusahaan (yang belum saya miliki, hehe), nama pena bisa menjadi alternatif untuk memulai langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup saya.

Perkenalkan, website baru saya indrianitaslim.com.

Insya Allah dalam waktu dekat saya akan mengisinya dengan 1000 artikel yang pernah saya targetkan selesai dalam 10 tahun (baca artikel yang saya pinned di bagian teratas blog ini). Saya menyediakan jasa penulisan artikel untuk blog atau website, dengan berbagai niche. Untuk harga dan ketentuan lain menyusul ya!

Jika ingin bekerjasama dengan daya, silakan langsung kontak email saya di order@indrianitaslim.com

Terimakasih.

Indriani Taslim

Ketenangan Hati

Saya banyak mempelajari tentang bagaimana bisa meraih ketenangan hati.

Ada yang mengaitkannya dengan rezeki, jika kita memiliki ketenangan hati, maka kita akan bisa mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Ada pula yang mengatakan bahwa ketenangan hati itu sendiri sudah merupakan rezeki. Karena banyak orang yang memiliki banyak harta, tidak mampu memiliki ketenangan hati. Padahal, dalam hidup kita, apa sih yang kita inginkan melebihi ketenangan hati?

Ya, dengan hati yang tenang, berapapun uang yang ada di dompet kita jadi tidak masalah. Berapapun harta yang kita miliki, jika sudah tenang maka tidak akan ada masalah lagi. Yang jadi masalah itu ketika kita sudah banyak harta tapi tidak merasa tenang (karena banyak sebab). Tentunya, jika kita memiliki sedikit harta namun juga tidak tenang, itu namanya musibah dua kali. Sudah gak punya uang, hati gelisah. Jadi, penting sekali untuk senantiasa tenang, baik itu saat lapang maupun sempit.

Image by Pexels from Pixabay

Saya berusaha untuk tetap tenang, apapun keadaannya. Berusaha tidak kemurungsung, walaupun keadaannya tidak memungkinkan untuk tetap tenang. Alhamdulillah, says sudah mulai menerapkan gaya hidup slow living, yaitu gaya hidup yang tidak terburu-buru di zaman serba cepat ini. Hampir tidak mungkin sih saya 100% hidup slow, karena pekerjaan saya di kantor adalah pekerjaan yang serba cepat. Membutuhkan konsentrasi, kecepatan, ketepatan, berbicara dengan banyak orang, mengatasi masalah orang lain, dan tentunya berhubungan dengan gadget dan internet (hampir mustahil untuk menghindari kedua benda ini).

Continue reading “Ketenangan Hati”

Istiqomah Bersedekah

Saya mau cerita sedikit tentang sedekah.

Sudah lama saya membaca artikel, mendengar ceramah, dan menonton video tentang sedekah dari berbagai sumber. Saya memang memiliki ketertarikan tentang amalan sedekah, melebihi amalan-amalan lain. Ya, kalau ada orang yang concern di Quran, shalat, shalawat, dll, saya cenderung pada amalan sedekah.

Banyak hal yang saya pelajari tentang sedekah. Mulai dari merutinkan sedekah (walau nominal kecil), sampai sedekah ekstrim atau sedekah brutal. Dan saya insya Allah sudah pernah mempraktekkannya. Ada pengalaman-pengalaman sedekah yang membuat saya jadi “ketagihan” dalam bersedekah.

Ada 3 sedekah yang berusaha saya rutinkan saat ini.

Pertama, sedekah subuh/sedekah pagi. Saya berusaha merutinkannya (walau ada bolongnya juga) setiap pagi. Nominalnya minimal 2 ribu sampai semampu saya. Saya menyalurkannya setiap hari, kadang saya kumpulkan beberapa dulu baru saya salurkan.

Kedua, sedekah nasi jumat. Ini per pekan, kadang saya ambil dari sedekah subuh yang dikumpulkan (penyalurannya di hari jumat) atau memang saya berikan khusus di hari jumat itu. Saya menyalurkannya di @jumatberkahponorogo

Ketiga, sedekah bulanan ke BMH. Nominalnya kecil, bahkan saya bisa bilang sangat kecil sekali. Tapi saya berusaha untuk ISTIQOMAH.

Inilah kata kuncinya. Saya ingin istiqomah dalam bersedekah. Saya mengajak orang-orang di sekitar saya untuk istiqomah dalam bersedekah. Memulai suatu pekerjaan atau amalan memang mudah, namun yang sulit adalah istiqomahnya atau konsisten menjalankannya. Tidak percaya? Coba saja.

Sudah, segitu dulu insight dari saya. Kalau kamu, sudahkah istiqomah bersedekah?

Nikmat Sehat

Beberapa hari lalu, tepatnya sebelum liburan awal tahun, saya merasakan badan saya kurang sehat. Masuk angin. Sebenarnya saya sudah jarang mengalaminya, bahkan bisa dibilang alhamdulillah saya jarang sakit. Kalau sakit, berputar di masuk angin, pusing, sakit gigi, flu, atau capek-capek biasa.

Qadarullah 2 hari sebelum sakit saya kehujanan, tak pakai jaket pula. Padalah biasanya saya selalu pakai jaket, everyday every season. Mau panas, mau hujan, cerah, dingin, selalu pakai jaket. Ya, namanya juga sebab, entah kenapa 2 hari itu saya pede banget nggak pakai jaket.

Foto oleh Marcus Aurelius dari Pexels

Rupanya, itulah cara Allah memberikan “nikmat” buat saya berupa sakit. Mana waktunya bertepatan banget dengan libur panjang tanggal 1-3 Januari. Tanggal 30, badan saya mulai meriang, sore udah nggak konsen mau kerja. Tanggal 31-nya badan sudah drop, lalu saya pakai istirahat, siang sampai sore masih bisa lanjut kerja. Kemudian, tanggal 1-3 saya ke rumah ibu, ngajak anak. 2 hari cuman rebahan aja. Kemarin, hari Ahad baru fit. Senin ini sudah kerja lagi seperti biasa. Alhamdulillah…

Continue reading “Nikmat Sehat”

Angka Cukup

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan channel youtube Mas Jaya Setiabudi. Ada pembahasan menarik soal angka cukup. Jadi, kita sebagai muslim bisa menentukan angka cukup kita. Misalnya, untuk simpanan maksimal 1 nisab (85gr emas). Jadi, kalau kita punya harta banyak pun, ada baiknya digerakkan baik dalam usaha, disedekahkan, dll. Bukan hanya ditumpuk menjadi harta simpanan.

Foto oleh Magda Ehlers dari Pexels

Ada juga pendapat dari Fellexandro Ruby, yang mengajarkan bahwa jika kita sudah bisa menentukan pengeluaran bulanan kita (jadi dia pakai metode mencatat selama 1 bulan, lalu kita simpulkan sebenarnya pengeluaran rutin kita berapa…?), maka jika kita punya kenaikan pendapatan baik dari gaji atau usaha, itu bukan berarti kita juga menaikkan pengeluaran rutin kita. Misal, pengeluaran kita 3 juta sebulan saat gaji 3 juta, maka saat gaji 10 juta atau 50 juta, usahakan pengeluaran rutin kita tetap di angka 3 juta. Sisanya dikemanakan? Ya kalau versi dia sih buat berbagi, investasi, usaha, biaya belajar/kursus, dll. Jadi bukan buat hedon ya. Hehe.

Continue reading “Angka Cukup”

Bertanya Kembali

Semakin ke sini, saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Jika di dunia ini saya memiliki banyak keinginan dan ambisi, saya bertanya kembali apakah itu semua yang memang saya inginkan?

Foto oleh Bich Tran dari Pexels

Terkait materi misalnya, saya ingin memiliki banyak benda, uang, harta, dan pencapaian-pencapaian. Terkadang siang malam saya memikirkannya. Termasuk dalam pekerjaan, bisnis, keluarga, pertemanan, relasi, dan sebagianya. Memikirkannya terus, sampai di titik saya bertanya kembali pada diri saya : Apakah benar saya menginginkan semua itu? Adakah hal lain yang ingin saya kerjakan diluar mencapai target dan impian…?

Saat secara sadar saya bertanya, saya merasakan bahwa sebenarnya jawabannya hanya satu : TIDAK HARUS.

Continue reading “Bertanya Kembali”

Seni Menyelesaikan Masalah

Pastinya, dalam hidup kita akan selalu ada masalah. Masalah menandakan kita masih hidup. Kalau udah mati, masalah kita selesai (masalah di dunia).

Saya merasa masalah ini akan selalu ada walaupun kita sudah naik level. Mulai dari masalah receh, naik level ke masalah yang lebih tinggi maksudnya. Masalah kita saat sekolah dengan masalah saat usia kerja udah beda. Masalah single dan sudah menikah jelas berbeda.

Yang membuat kita dewasa adalah saat kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Kalau diujian, kita lulus ujian tersebut. Kalau gagal, ya ngulang lagi. Sederhana, bukan…?

Photo by Ben White on Unsplash

Jadi buat yang merassa kenapa masalah gua kok muter-muter aja di situ, nggak kelar-kelar…? Ya, mungkin aja lo keseringan menghindar dari masalah, tidak berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Alhasil, ya lo gagal. Lo ngulang lagi.

Sorry, sorry. Jadi lo gua.

Continue reading “Seni Menyelesaikan Masalah”

Berbuat Lebih

Saya beberapa kali membaca jawaban dari sebuah pertanyaan di Quora:

Apa yang membuat Anda tidak mau “berbuat lebih” untuk perusahaan tempat Anda bekerja?

Mau jawab di sana belum pede, karena biasanya menjawab pertanyaan yang simpel-simpel aja. Mungkin saya lebih nyaman menjawab di sini.

Saya sebenarnya tipe orang yang jika sudah memilih suatu pekerjaan atau apapun itu, adalah tipe setia dan mau berjuang sampai akhir.

Photo by Bonnie Kittle on Unsplash

Contohnya dulu saat memilih untuk kuliah, maka saya berusaha untuk membiayai kuliah saya sampai selesai, sampai wisuda, meskipun harus mengorbankan masa muda saya untuk bekerja sambil kuliah (boleh dibalik sih, kuliah sambil bekerja, wkwkwk).

Contoh lain, saat saya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihan saya, dan yang memilih saya tentunya. Saya lewati semuanya meski banyak badai tornado yang menghantam bahtera rumah tangga saya (hingga kini). Saya masih di sini, berusaha untuk mempertahankannya hingga akhir hayat.

Ketika saya memutuskan saya siap hamil dan melahirkan, saya berdedikasi tiga tahun untuk hamil, melahirkan, dan menyusui anak saya. Saya lakukan, walau ditengah keterbatasan uang dan kedamaian.

Continue reading “Berbuat Lebih”

Starting Up an Online Bussines

Halo, kamu lagi apa?

Pandemi ini mungkin banyak orang yang beralih ke bisnis online untuk mengebulkan lagi asap dapur, menyambung hidup setelah di-PHK, atau mengumpulkan lagi pundi-pundi setelah bisnis offline sepi.

Nah, sama nih, saya lagi mau mulai bisnis online.

Foto oleh Anna Shvets dari Pexels

Saya cerita dulu ya. Saya itu orangnya sangat mudah berubah-ubah pikiran. Sehari bilang A, besok udah B aja. Gitu terus. Saya sempat bertanya kepada kakak saya, “Kamu percaya gak kalau suatu saat aku bisa menghasilkan dolar dari Adsense?” Ini kaitannya dengan bidang yang sedang saya pelajari yaitu SEO dan digital marketing.

Apa jawab kakak saya?

“Iya, asalkan kamu nggak berubah-ubah pikiran.”

Udah nanya gitu, apakah saya langsung nggak berubah-ubah pikiran…? Nggak juga. Saya tetap berubah pikiran. Bahkan setiap detik saya berubah pikiran. Hehe.

Continue reading “Starting Up an Online Bussines”